HUMOR DAN GUYONAN SEGAR
Gerrr Plus+ala Kang Uci-365
Sir Winston Churchill
Keledai mau lawan Churchill
Dunia politik memang aneh. Hal-hal yang mungkin sudah terlupakan oleh seorang tokoh politik, justru dijadikan pemukul bahkan kalau mungkin penghancur dirinya oleh lawan politiknya.
Hal ini dialami juga oleh Sir Winston Churchill, yang bersama-sama Franklin Roosevelt dari Amerika Serikat, memimpin sekutu pada masa Perang Dunia II. Suatu ketika sang Perdana Menteri Inggris itu diwawancarai seorang wartawan dari surat khabar lawan politiknya. Kesempatan yang langka dipergunakan si wartawan untuk mengungkit ungkit masa lalu Churchill.
“Tuan Churchill, dari perpustakaan Negara, kami mengetahui bahwa tuan dahulu pernah memiliki sebuah kereta kuda yang tuan pergunakan dan tuan kendarai sendiri kemana-mana. Dimana sekarang tuan simpan kendaraan itu?”
Churchill bukanlah Churchill bila tidak bias mencium kearah mana angina akan bertiup. Menyadari bahwa wartawan di hadapannya dari suratkabar lawan politiknya. Tentulah ia akan mengungkit hal – hal negative yang akan disiarkan dengan tujuan untuk menghinanya.
“Anda hebat. Anda punya ingatan yang sangat kuat sekali. Saya sendiri sudah hampir lupa. Churchill berhenti sebentar, kemudian menatap tajam kearah sang wartawan.., “ Kereta itu sudah lama saya musiumkan. Di zaman penuh mobil sekarang ini, kereta sudah tidak cocok lagi. Mungkin anda lupa, bahwa kereta saya itu bukan ditarik kuda, tapi keledai. Dan… keledai itu sekarang ada di hadapan saya..”
Dan konon khabarnya, wawancara yang semula direncakan untuk dimuat di halaman satu, ternyata tidak pernah muncul.
150 % untuk Churchill
Sebagai seorang warga Negara Inggris, Winston Churchill telah mengabdi kepada negaranya habis-habisan. Sampai usian tuanya, Sir yang satu ini telah menunjukkan loyalitas yang tiada celanya pada bangsa dan negaranya.
Tentu saja untuk dapat berbakti sedemikian rupa, ia harus cukup sehat, seshingga di hari tuanya dia tidak hanya merupakan sesosok tubuh yang penuh dengan penyakit.
Tentang kesehatan dan umur panjangnya ini, tentu saja tidak bisa lepas dari rawatan tim dokternya. Salah seorang dokternya adalah Lord Moran. Pada suatu hari, istri sang dokter bertanya, bagaimana caranya Moran telah mampu memberi umur panjang kepada Churchill.
“Oho, itu ada rahasianya.untuk istriku tersayang kubuka kartu. Dengarkan, tentang umur panjang Churchill, 50 % memang sudah menjadi kehendak alam. 50% lagi berkat usahaku bersama tim medis, dan masih ada 50% lagi berkat usaha dia sendiri”.
“Bagaimana mungkin jumlahnya menjadi 150%???”
“Oho.. jangan heran, harus diingat, Churchill itu punya kekuatan dan kapasitas lebih dari yang biasanya dimiliki satu orang”
Napoleon Bonaparte
Napoleon Bicara, Dunia Berhenti Berputar..
Siapa tak kenal nama Napoleaon Bonaparte. Dialah yang memimpin rakyatnya mengadakan revolusi Perancis yang terkenal pada tahun 1799, yang kemudian menjadi Kaisar. Nasib buruk menimpanya kemudian sehingga ia harus dibuang ke pulau Elba dan meninggal di sana. Pada masa jayanya, boleh dikata dialah yang menentukan hidup matinya rakyat Perancis.
Pada suatu malam, entah kemasukan setan apa, dia ingin menyaksikan pagelaran konser di gedung kesenian. Kebetulan konser yang digelar malam itu sangat terkenal dan mendapat kunjungan bukan hanya dri masyarakat Paris, tetapi juga dari kota-kota lain bahkan dari Negara lain.
Begitu Sang Kaisar memasuki ruang konser, matanya tertancap pada seorang jenderal veteran, sahabatnya sewaktu masih menjadi Panglima Perang. Karena sudah bertahun-tahun tak berjumpa, bisa dibayangkan betapa hangat pertemuan itu. Alhasil, sambil mengobrol terus, mereka menuju tempat duduk, yang tentu saja di balkon VVIP (very very important person).
Obrolan nostalgia yang diselingi tawa yang bahkan terbahak-bahak, sehingga mengganggu penonton lainnya yang jauh-jauh datang ingin menikmati konser di gedung itu. Suasana hening yang biasanya mewarnai gedung itu bila konser tentah berlangsung, tercemar oleh suara kedua sahabat itu. Tentu saja konsentrasi orang jadi pecah. Bukan saja konsentrasi pengunjung, juga konsentrasi si dirijen. Tetapi siapa yang berani menegur kedua tamu VVIP itu?
Ternyata ada juga yang berani. Dan orang itu adalah si dirijen itu sendiri. Dengan sedikit kode, tiba-tiba suara music mendadak berhenti. Akibatnya diruangan yang sengaja dibuat remang-remang itu yang terdengar hanya suara percakapan dan gelak tawa Napoleon dan sahabatnya itu.
Beberapa menit berlalu, barulah Sang Kaisar menyadari sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung. Serta merta pandangannya jatuh pada sang dirijen, dan dengan geram dia bertanya, “Hei, siapa yang menyuruhmu berhenti????” suasana hening seperti di pekuburan, masing-masing membayangkan tamatlah riwayat sang dirijen itu. Kepalanya akan bercerai dari tubuhnya esok pagi…
Namun ditengah kesenyapan itu terdengar jawaban, “Ya, Sirr..jangan kan sekedar konser ini, dunia pun akan berhenti berputar kalau Tuanku sedang berbicara…” dirijen bicara dengan suara perlahan namun cukup bisa didengar Sang Kaisar dan sebagian pengunjung, sambil membungkuk kan badannya.
Seluruh pengunjung menarik napas lega, setelah Napoleon memerintahkan konser dilanjutkan.
Napoleon di gulung benang wol
Sebagai Kaisar yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas, ternyata Napoleoon punya hati lembut yang sering di luar perkiraan banyak orang.
Suatu hari ia mengadakan “sidak” (Inspeksi mendadak) ke sebuah Universitas. Universitas ini menyelenggarakan pendidikan mulai dari SD sampai tingkat Sarjana.
Ia mulai inspeksinya dengan memasuki kelas terendah. Matanya segera terpaku pada seorang gadis kecil dengan sorotan mata yang begitu tajam yang dengan tekunnya merajut sebuah jumpeer (baju hangat). Sang Kaisar menebak gadis itu pasti cerdas otaknya dan punya bakat yang kuat di suatu bidang. Ia ingin menguji pendapatnya itu. Didekatinya gadis kecil itu, “ Mademooiselle (Nona), coba katakan, kalau kau membuat sebuah jumpeer, berapa gulung benang wol kau butuhkan.”
Si gadis kecil langsung menjawab, seperti tanpa berpikir dan tanpa menghiraukan siapa yang bertanya, “satu gulung pun bisa, asalkan panjangnya mencukupi…”
Mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka itu, Napoleon berniat memberi hadiah si gadis kecil. Ia segera melepas kalung emas beserta medalionnya, miliknya satu-satunya peninggalan neneknya..
Stalin
Pencuri Jam Tangan Stalin
Pimpinan tertinggi Rusia, Stalin, dictator Uni soviet sesudah Lenin,menutup rapat kilat dengan beberapa jenderalnya. Ia harus pulang.
Sopir pribadinya diminta ngebut menjalankan mobilnya. Belum berapa jauh mobil mengarungi malam pekat itu, tiba-tiba ia memberi perintah kepada sang sopir untuk menuju kantor kepolisian. Ada apa?? Ternyata stalin kehilangan arlojinya. Sewaktu ia ingin melihat sudah pukul berapa? Ternyata jam tangannya tidak ada.
Otaknya berpikir cepat. Arlojinya hilang. Tapi hilang dimana?? Ketinggalan di ruang rapat atau di curio rang? Padahal seharian ia berada di ruangan rapat, tidak kemana-mana lagi. Jadi dicuri orang??? Kalau ini memang benar terjadi, tentulah jenderal-jenderal di ruang rapat itu yang melakukannya.
Sesampai di kantor polisi Stalin segera memerintahkan polisi untuk memeriksa semua jenderal yang tadi ikut rapat. “ Beri laporan dalam satu jam!” perintah Stalin.
Stalin segera melanjutkan perjalanannya ke rumah. Sampai di rumah, seperti biasa dia punya kebiasaan selalu mengisi buku hariannya. Ia menuju kamar kerjanya. Setelah duduk, segera ia membuka laci meja tulisnya..tapi alangkah terkejutnya, karena arlojinya ada disana.
Segera ia menelpon kantor polisi. Ternyata kepala polisi sedang sibuk memerikas jenderal-jenderal yang dicurigai telah mengambil arlojinya. Stalin terpaksa agak lama menunggu. Begitu pesawat telepon diangkat, ia langsung beri perintah,
“perintahku ku cabut! Laksanakan..!!!”
“tapi itu tidak mungkin tuan,” jawab kepala kepolisian dari seberang sana..”Perintah sudah terlanjur dilaksanakan..para jenderal sedang diperiksa, dan semua yang sudah diperiksa mengaku telah mengambil arloji”
16 April 2010
HUMOR DAN GUYONAN SEGAR ALA KANG UCI-365
BULAN MABUK KEPAYANG
Pemabuk memanggil pelayan Bar.
‘pelayan..! Hikk., beri aku sebotol minuman keras..Hik!!
“ mau whisky atau bir?”
“HikK!! Bodoh kamu!..aku kan Cuma memintamu mengambilkan minuman keras. Soal bir, brandy, atau whisky itu bukan urusan kamu!”
Kamto yang habis mabuk-mabukan,
Mencari taksi untuk pulang ke rumahnya, di Depok. Karena sudah lama tidak ada taksi lewat, kamto menyetop sebuah sedan. “Apakah anda menuju DepoK??” Tanya Kamto kepada sopir sedan itu.
“Ya”
“yah, selamat jalan. Hikk!!.. semoga Tuhan menyertaimu..”
“Aku tidak pernah punya Simpati
Pada laki-laki yang kerjanya mabuk tiap malam.”
“lelaki yang kerjanya mabuk tiap malam tidak pernah membutuhkan simpati dari siapapun..”
“Tahukah Kamu apa yang ada di
Dalam air itu?” kata seorang pemabuk yang melihat bayangan bulan di air.
“Bulan”
“Tapi bagaimana aku meletakannya kembali ke atas?”
Pemabuk itu bertanya kepada se-
Orang pejalan kaki, “ Heh, dimana letak seberang jalan itu?”
“Ya, di sebelah sana, “ kata pejalan kaki itu sambil menunjuk kearah seberang jalan.
“Kamu ngawur! HiKK !! saya baru saja dari seberang sana..kata orang di sana berkata, “seberang jalan itu ada di sini”
“Maap Tuan, Bolehkah saya Ber-
Tanya, di mana saya sekarang?” Tanya pemabuk kepada pejalan kaki di sebuah sudut kota di Jakarta.
“Oh, Anda berada di sudut jalan antara Jalanl Jendral Sudirman dan Jalan Thamrin.”
“Jangan terlalu detil, katakan saja di kota mana saya berada”
Dua Pemuda Teller itu saling tuka cerita:
“ Tahukah kamu, aku dulu lahir tidak normal. Aku lahir di bulan ketujuh, berat badanku pun hanya dua kilogram”
“Hanya itu?”
“Hiya, kenapa?”
“Ceritamu belum lengkap. Kamu belum bercerita kamu lahir dalam keadaan hidup atau tidak”
Lelaki Teller itu mengangkat Telephon:
”Hallo! HiKK!..HallOoo..” Kata lelaki itu
“ Hallo..!” kata operator di seberang sana
“Halloo..”
“Hallo..”
”Gila ! “ kata lelaki pemabok itu sambil menutup gagang telephon, “Telephon ko, di beri echo..”
Pemabuk memanggil pelayan Bar.
‘pelayan..! Hikk., beri aku sebotol minuman keras..Hik!!
“ mau whisky atau bir?”
“HikK!! Bodoh kamu!..aku kan Cuma memintamu mengambilkan minuman keras. Soal bir, brandy, atau whisky itu bukan urusan kamu!”
Kamto yang habis mabuk-mabukan,
Mencari taksi untuk pulang ke rumahnya, di Depok. Karena sudah lama tidak ada taksi lewat, kamto menyetop sebuah sedan. “Apakah anda menuju DepoK??” Tanya Kamto kepada sopir sedan itu.
“Ya”
“yah, selamat jalan. Hikk!!.. semoga Tuhan menyertaimu..”
“Aku tidak pernah punya Simpati
Pada laki-laki yang kerjanya mabuk tiap malam.”
“lelaki yang kerjanya mabuk tiap malam tidak pernah membutuhkan simpati dari siapapun..”
“Tahukah Kamu apa yang ada di
Dalam air itu?” kata seorang pemabuk yang melihat bayangan bulan di air.
“Bulan”
“Tapi bagaimana aku meletakannya kembali ke atas?”
Pemabuk itu bertanya kepada se-
Orang pejalan kaki, “ Heh, dimana letak seberang jalan itu?”
“Ya, di sebelah sana, “ kata pejalan kaki itu sambil menunjuk kearah seberang jalan.
“Kamu ngawur! HiKK !! saya baru saja dari seberang sana..kata orang di sana berkata, “seberang jalan itu ada di sini”
“Maap Tuan, Bolehkah saya Ber-
Tanya, di mana saya sekarang?” Tanya pemabuk kepada pejalan kaki di sebuah sudut kota di Jakarta.
“Oh, Anda berada di sudut jalan antara Jalanl Jendral Sudirman dan Jalan Thamrin.”
“Jangan terlalu detil, katakan saja di kota mana saya berada”
Dua Pemuda Teller itu saling tuka cerita:
“ Tahukah kamu, aku dulu lahir tidak normal. Aku lahir di bulan ketujuh, berat badanku pun hanya dua kilogram”
“Hanya itu?”
“Hiya, kenapa?”
“Ceritamu belum lengkap. Kamu belum bercerita kamu lahir dalam keadaan hidup atau tidak”
Lelaki Teller itu mengangkat Telephon:
”Hallo! HiKK!..HallOoo..” Kata lelaki itu
“ Hallo..!” kata operator di seberang sana
“Halloo..”
“Hallo..”
”Gila ! “ kata lelaki pemabok itu sambil menutup gagang telephon, “Telephon ko, di beri echo..”
15 April 2010
memory at the Bumi Makmur Hotel
Bumi makmur hotel, ketika aku dan teman teman mengikuti pelatihan guru profesional. disini tampak saya dan teman-teman sedang melaksanakan learning out of door, to fulfillment Mr. Didi subject.
LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM
LATAR BELAKANG BUDAYA ISLAM
Arabia jaman pra-Islam
Iman Islalm menganggapnya sebagai penghujatan apabila ajaran Alqur’an maupun Muhammad dikatakan bersumber pada adat istiadat, budaya, dan kepercayaan jaman pra-Islam. Itu sebabnya orang-orang Muslim tidak pernah melakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Arabia jaman pra-Islam.
Ahli-ahli Barat sajalah yang mengungkap sejarah masa lalu untuk menemukan sumber-sumber budaya dan kesusasteraan yang dimanfaatkan Muhammad dalam membangun agamanya dan juga Alquran itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa setiap referensi dari Barat mengenai agama Islam selalu dimulai dengan suatu pendahuluan menceritakan Arab di masa pra-Islam dan pengaruhnya terhadap pengajaran dan ritus-ritus keagamaan yand dianut Muhammad.
Latar belakang sejarah Islam tidak dapat diabaikan. Jikalau sumber dan asal-usul Islam dapat ditelusuri dan ditemukan dalam kepercayaan , adat-istiadat, dan budaya Arab jaman pra-Islam, berarti doktrin-doktrin yang menyatakan bahwa keimanan Muhammad dan Alquran yang diturunkan langsung (dari surga dan tidak berasal dari dunia dan tangan-tangan manusia) adalah menjadi doktrin yang bermasalah.
Alasan Yang Berputar-putar
(Circular Reasoning)
Umat Islam seringkali berargumentasi dengan menggunakan jalan berpikir berputar-putar. Mereka berdalih bahwa Islam dan Al-quran diturunkan langsung dari surga, sehingga tidak mungkin ada sumber-sumber atau bahan-bahan duniawi yang dapat digunakan untuk mengkonstruksinya. Mereka selalu berasumsi demikian.
Namun para cendekiawan Barat tidak dapat menerima asumsi yang dilakukan sekenanya saja. Karena sebagaimana yang kita lihat, iman Islam dan Al-quran sendiri dapat dilihat secara lengkap dan sempurna dalam lingkup kepercayaan, adat-istiadat, dan budaya Arab di jaman pra-Islam.
Perhatian khusus akan diberikan pada hasil karya awal yang ditulis oleh Julius Wellhausen, Theodor Noldeke, Joseph Halevy, Bell, J. Arberry, Wendell Phillips, W. Montgomery Watt, Alfred Guillaume, dan Arthur Jeffery. Penelitian linguistic dan arkeologi yang dilakukan sejak pertengahan ke dua abad 19 telah mengungkapkan banyak bukti bahwa Muhammad mengkosnstruksi agamanya dan Al-quran dengan mengambil bahan-bahan yang berasal dari budaya Arab.
Makna Islam
Sebagai contoh awal, kata “Islam” tidaklah diwahyukan dari surga atau diciptakan oleh Muhammad. Kata itu adalah kata Arab yang aslinya merujuk kepada sifat kejantanan dan mendiskripsikan seseorang yang gagah berani dan jantan dalam pertempuran. Dr. M. Bravmann, seorang sarjana dan ahli mengenai Timur Tengah, mendokumentasikan hasil kerjanya yang sangat mengagumkan, dalam bukunya yang berjudul “The Spiritual Background of Early Islam”
Islam asalnya merupakan konsep sekuler yang menunjukkan suatu budi luhur dalam pandangan orang Arab primitive; berani menantang maut, kepahlawanan; siap mati dalam pertempuran.
Kata “Islam “ semula sebetulnya, bukan berarti”kepatuhan”atau “berserah-diri” sebagaimana yang dikira banyak orang. Sebaliknya, kata itu berarti kekuatan yang menjadi ciri pejuang padang pasir yang akan bertempur sampai mati buat suku bangsanya kalau mereka menghadapi rintangan yang tidak mungkin diterobos sekalipun. Kata islam baru kemudian secara perlahan-lahan mengalami perubahan arti yaitu menjadi kepatuhan, tuduk, seperti yang didemonstrasikan oleh: Dr. Jane Smith di Universitas Harvard.
Kehidupan Ksekuan Jaman Pra-Islam
Aspek masyarakat kesukuan pada jaman Arab pra-Islam menjadi acuan dari banyak hal yang dapat ditemukan dalam Islam masa kini. Misalnya, adalah sesuai dengan moral Arab pada waktu itu mebenarkan suku yang satu melakukan penyerangan kepada suku-suku lain dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, istri-istri dan budak-budak, sehingga mengakibatkan suku-suku di sana secara terus-menerus berperang antar mereka sendiri.
Suku-suku padang pasir hidup dengan menganut aturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Pembalasan selalu dicanangkan bilamana ada perbuaan yang menyakiti salah satu anggota dari suatu suku.
System hukum yang kejam tersebut diikuti oleh suku-suku Arab pengembara. Bagi mereka memotong tangan kanan, kaki atau kepala seseorang merupakan hal yang wajar-wajar saja, tidak ada masalah. Lidah dapat dipotong, telinga dipotong, bahkan mata dicungkil sebagai hukuman atas berbagai kejahatan.
Tindakan membokong seseorang dan menggorok leher dan mengirisnya dari telinga satu ketelinga lain, dipandang sebagai perbuatan yang benar dalam situasi tertentu. Dan algojo yang melakukannya dipandang sebagai pahlawan.
Memaksa orang menjadi budak atau menculik para wanita dan membawamereka ke dalam harem (selir), serta memperkosa mereka, semuanya dianggap patut-patut saja. Keadaan dan kondisi Arab yang keras menciptakan masyarakat kesukuan yang keras pula di mana tindakan kekerasan menjadi normanya. Dan kekerasan masih merupakan attribute dalam masyarakat Islam.
Sebuah Contoh di Alam Modern ini
Pengenaan fatwa mati yang mengenaskan bagi Salman Rusdhie adalah contoh dari tindakan kekerasan Arab yang dilakukan di alam modern ini.
Dihukum mati karena menulis sebuah buku yanb mengungkapkan hal-hal yang tidak menguntungkan Muhammad, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami atau ditoleransi masayarkat Barat. Namun bagi orang Muslim Arab, hal itu sangat masuk akal. Doctor William Montgomery Watt dari Universitas Edinburgh menyatakan:
“Perlu dikatakan bahwa orang-orang Arab tidak beranggapan bahwa membunuh seseorang adalah merupakan sesuatu yang salah pada hakekatnya. Perbuatan itu baru disebut salah kalau orang tersebut adalah anggota dari keluarga besar atau keompok persekutuannya, karena dalam Islam ini berarti pembunuhan terhadap sesama orang beriman”.
Rasa takut kepada pembalasan dendam juga akan membuat orang tidak membunuh salah satu anggota dari suku yang kuat. Namun dalam kasus lain tidak ada alas an untuk melarang membunuh.
Di Amerika Serikat, pergerakan masyarakat Muslim berkulit hitam mencatat suatu riwayat tindak kekerasan yang tidak terpuji. Tindak kekerasan tersebut termasuk membunuh para pemimpin mereka sendiri.
Pembunuhan
Sungguh menarik untuk menyimak bahwa kata dalam bahasa Inggris “assassin”, sesungguhnya terambil dari bahasa Arab. Bahasa inggris mengambil kata itu dari bahasa latin “assassinus”. Bahasa Latin mengambilnya dari bahasa Arab “hashshashin”. Dalam bahasa Arab kata hashshashin secara literal berarti “orang yang menghisap ganja” dan digunakan untuk mendiskripsikan orang-orang muslim yang menghisap ganja yang merangsang mereka hingga “mabok-religius” sebelum mereka melakukan pembunuhan atas musuh-musuh mereka.
Kata tersebut masuk kedalam khasanah perbendaharaan kata-kata bahasa Eropa melalui suatu Sekte Muslim yang menamakan diri mereka “Kelompok Assassins” yaitu kelompok yang meyakini bahwa Allah memanggil mereka untuk membunuh orang-orang sebagai suatu tugas suci.
“Kelompok Assassin menteror Timur Tengah dari abad ke-11 sampai abad ke-13 sesudah Masehi dan bahkan membuat Marcopolo, seorang penjelajah Barat, sampai merasa takut akan hidupnya.
(next published))))).
Arabia jaman pra-Islam
Iman Islalm menganggapnya sebagai penghujatan apabila ajaran Alqur’an maupun Muhammad dikatakan bersumber pada adat istiadat, budaya, dan kepercayaan jaman pra-Islam. Itu sebabnya orang-orang Muslim tidak pernah melakukan penelitian secara mendalam untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan Arabia jaman pra-Islam.
Ahli-ahli Barat sajalah yang mengungkap sejarah masa lalu untuk menemukan sumber-sumber budaya dan kesusasteraan yang dimanfaatkan Muhammad dalam membangun agamanya dan juga Alquran itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa setiap referensi dari Barat mengenai agama Islam selalu dimulai dengan suatu pendahuluan menceritakan Arab di masa pra-Islam dan pengaruhnya terhadap pengajaran dan ritus-ritus keagamaan yand dianut Muhammad.
Latar belakang sejarah Islam tidak dapat diabaikan. Jikalau sumber dan asal-usul Islam dapat ditelusuri dan ditemukan dalam kepercayaan , adat-istiadat, dan budaya Arab jaman pra-Islam, berarti doktrin-doktrin yang menyatakan bahwa keimanan Muhammad dan Alquran yang diturunkan langsung (dari surga dan tidak berasal dari dunia dan tangan-tangan manusia) adalah menjadi doktrin yang bermasalah.
Alasan Yang Berputar-putar
(Circular Reasoning)
Umat Islam seringkali berargumentasi dengan menggunakan jalan berpikir berputar-putar. Mereka berdalih bahwa Islam dan Al-quran diturunkan langsung dari surga, sehingga tidak mungkin ada sumber-sumber atau bahan-bahan duniawi yang dapat digunakan untuk mengkonstruksinya. Mereka selalu berasumsi demikian.
Namun para cendekiawan Barat tidak dapat menerima asumsi yang dilakukan sekenanya saja. Karena sebagaimana yang kita lihat, iman Islam dan Al-quran sendiri dapat dilihat secara lengkap dan sempurna dalam lingkup kepercayaan, adat-istiadat, dan budaya Arab di jaman pra-Islam.
Perhatian khusus akan diberikan pada hasil karya awal yang ditulis oleh Julius Wellhausen, Theodor Noldeke, Joseph Halevy, Bell, J. Arberry, Wendell Phillips, W. Montgomery Watt, Alfred Guillaume, dan Arthur Jeffery. Penelitian linguistic dan arkeologi yang dilakukan sejak pertengahan ke dua abad 19 telah mengungkapkan banyak bukti bahwa Muhammad mengkosnstruksi agamanya dan Al-quran dengan mengambil bahan-bahan yang berasal dari budaya Arab.
Makna Islam
Sebagai contoh awal, kata “Islam” tidaklah diwahyukan dari surga atau diciptakan oleh Muhammad. Kata itu adalah kata Arab yang aslinya merujuk kepada sifat kejantanan dan mendiskripsikan seseorang yang gagah berani dan jantan dalam pertempuran. Dr. M. Bravmann, seorang sarjana dan ahli mengenai Timur Tengah, mendokumentasikan hasil kerjanya yang sangat mengagumkan, dalam bukunya yang berjudul “The Spiritual Background of Early Islam”
Islam asalnya merupakan konsep sekuler yang menunjukkan suatu budi luhur dalam pandangan orang Arab primitive; berani menantang maut, kepahlawanan; siap mati dalam pertempuran.
Kata “Islam “ semula sebetulnya, bukan berarti”kepatuhan”atau “berserah-diri” sebagaimana yang dikira banyak orang. Sebaliknya, kata itu berarti kekuatan yang menjadi ciri pejuang padang pasir yang akan bertempur sampai mati buat suku bangsanya kalau mereka menghadapi rintangan yang tidak mungkin diterobos sekalipun. Kata islam baru kemudian secara perlahan-lahan mengalami perubahan arti yaitu menjadi kepatuhan, tuduk, seperti yang didemonstrasikan oleh: Dr. Jane Smith di Universitas Harvard.
Kehidupan Ksekuan Jaman Pra-Islam
Aspek masyarakat kesukuan pada jaman Arab pra-Islam menjadi acuan dari banyak hal yang dapat ditemukan dalam Islam masa kini. Misalnya, adalah sesuai dengan moral Arab pada waktu itu mebenarkan suku yang satu melakukan penyerangan kepada suku-suku lain dengan tujuan untuk memperoleh kekayaan, istri-istri dan budak-budak, sehingga mengakibatkan suku-suku di sana secara terus-menerus berperang antar mereka sendiri.
Suku-suku padang pasir hidup dengan menganut aturan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Pembalasan selalu dicanangkan bilamana ada perbuaan yang menyakiti salah satu anggota dari suatu suku.
System hukum yang kejam tersebut diikuti oleh suku-suku Arab pengembara. Bagi mereka memotong tangan kanan, kaki atau kepala seseorang merupakan hal yang wajar-wajar saja, tidak ada masalah. Lidah dapat dipotong, telinga dipotong, bahkan mata dicungkil sebagai hukuman atas berbagai kejahatan.
Tindakan membokong seseorang dan menggorok leher dan mengirisnya dari telinga satu ketelinga lain, dipandang sebagai perbuatan yang benar dalam situasi tertentu. Dan algojo yang melakukannya dipandang sebagai pahlawan.
Memaksa orang menjadi budak atau menculik para wanita dan membawamereka ke dalam harem (selir), serta memperkosa mereka, semuanya dianggap patut-patut saja. Keadaan dan kondisi Arab yang keras menciptakan masyarakat kesukuan yang keras pula di mana tindakan kekerasan menjadi normanya. Dan kekerasan masih merupakan attribute dalam masyarakat Islam.
Sebuah Contoh di Alam Modern ini
Pengenaan fatwa mati yang mengenaskan bagi Salman Rusdhie adalah contoh dari tindakan kekerasan Arab yang dilakukan di alam modern ini.
Dihukum mati karena menulis sebuah buku yanb mengungkapkan hal-hal yang tidak menguntungkan Muhammad, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipahami atau ditoleransi masayarkat Barat. Namun bagi orang Muslim Arab, hal itu sangat masuk akal. Doctor William Montgomery Watt dari Universitas Edinburgh menyatakan:
“Perlu dikatakan bahwa orang-orang Arab tidak beranggapan bahwa membunuh seseorang adalah merupakan sesuatu yang salah pada hakekatnya. Perbuatan itu baru disebut salah kalau orang tersebut adalah anggota dari keluarga besar atau keompok persekutuannya, karena dalam Islam ini berarti pembunuhan terhadap sesama orang beriman”.
Rasa takut kepada pembalasan dendam juga akan membuat orang tidak membunuh salah satu anggota dari suku yang kuat. Namun dalam kasus lain tidak ada alas an untuk melarang membunuh.
Di Amerika Serikat, pergerakan masyarakat Muslim berkulit hitam mencatat suatu riwayat tindak kekerasan yang tidak terpuji. Tindak kekerasan tersebut termasuk membunuh para pemimpin mereka sendiri.
Pembunuhan
Sungguh menarik untuk menyimak bahwa kata dalam bahasa Inggris “assassin”, sesungguhnya terambil dari bahasa Arab. Bahasa inggris mengambil kata itu dari bahasa latin “assassinus”. Bahasa Latin mengambilnya dari bahasa Arab “hashshashin”. Dalam bahasa Arab kata hashshashin secara literal berarti “orang yang menghisap ganja” dan digunakan untuk mendiskripsikan orang-orang muslim yang menghisap ganja yang merangsang mereka hingga “mabok-religius” sebelum mereka melakukan pembunuhan atas musuh-musuh mereka.
Kata tersebut masuk kedalam khasanah perbendaharaan kata-kata bahasa Eropa melalui suatu Sekte Muslim yang menamakan diri mereka “Kelompok Assassins” yaitu kelompok yang meyakini bahwa Allah memanggil mereka untuk membunuh orang-orang sebagai suatu tugas suci.
“Kelompok Assassin menteror Timur Tengah dari abad ke-11 sampai abad ke-13 sesudah Masehi dan bahkan membuat Marcopolo, seorang penjelajah Barat, sampai merasa takut akan hidupnya.
(next published))))).
MANUSIA DENGAN ALAM NYA
MANUSIA DENGAN ALAMNYA
(FILSAFAT MANUSIA)
Pantheisme:
Pantheisme lingkungan Jawa:
Kebudayaan Hindu banyak pengaruhnya dalam kebudayaan Jawa terutama Jawa-Tengah. Tidak heran, karena di Jawa-Tengah berabad-abad ada kerajaan yang bersifat Hindu; ada yang menyebut kebudayaan itu bersifat Hindu, sementara ada juga yang menyebut bahwa kerajaan itu bersifat Hindu-Jawa, atau Jawa – Hindu.
Bahwa ada paduan antara kebudayaan yang terdapat di jawa sebelum masa Hindu dan yang mendatang dari tanah Hindu, itu tak dapat disangkal lagi. Jadi dalam filsafat, menurut arti seluas-luasnya, alam pikiran manusia itu diwarisi juga oleh penghuni jawa-modern ini. Mungkin ada yang menganggap ganjil, bahwa ada alam pikiran yang bersifat pantheistis, sedangkan sudah berabad-abad lamanya di daerah itu agama Islam di anut orang. Walaupun demikian , kita hendaklah ingat benar, bahwa dalam kalangan filsafat Islam, atau lebih baik dikatakan: di antara filsuf-filsuf yang beragama Islam, faham pantheisme ini tidaklah asing. Dalam abad-abad pertengahan filsuf-filsuf Islam terkenal seperti Ibn Siena, Ibnu Al’arabi banyak benar kena pengaruh Neoplatonisme. Sehingga tidak heranlah, bahwa pengaruh pantheisme itu tidaklah asing juga bagi agama Islam yang beberapa abad yang lalu masuk ke Indonesia. Banyak karya tertulis yang berisikan renungan dan pandangan mengenai Tuhan dengan dunia serta alam. Istilah Arab banyak juga dipakai tetapi istilah Jawa serta Sansekerta juga tidak asing. Di samping kata Allah terkenal juga istilah suksma, Pangeran, Hyang widi, gusti.
Hubungan manusia dengan Tuhan ini kerapkali dimajukan; sebab terutama bukanlah filsafat secara teori yang dikemukakan, melainkan secara praktis dan timbullah disini pandangan mengenai inti manusia dan terjawab pertanyaan apakah sebenarnya manusia itu. Jadi yang hendak dicari jawabnya bukan manusia satu persatu yang terlibat oleh segala keduniawian dengan segala pengetahuan yang banyak kelirunya itu, melainkan manusia yang benar-benar manusia yang sempurna; Insan Kamil. Dalam renungan-renungan mereka tentang manusia, maka yang dimaksud adalah manusia sempurna ini. Paling sedikit manusia biasa itu harus diberitahu dulu akan intinya, maka pengetahuan yang harus dimiliki manusia lebih dulu itulah yang disebutnya manusia sejati; dipergunakan istilah ngelmu. Maka ternyatalah bahwa dalam intinya adalah Tuhan sendiri. Dengan kata-kata yang sering amat indah, terutama jika diajukan ibarat atau persamaan, bentuk bahasanya amat menarik, sehingga pembaca tak tahu lagi mana yang sebenarnya dan mana yang merupakan persamaan. Cara pembuktian tidak selalu melalui logika, tetapi biasanya yang dipakai itu analogi atau kias. Dalam bentuk dialog tersimpulkan pendapat-pendapat tentang Tuhan atau manusia; dengan contoh-contohnya yang amat menarik diajukan inti manusia serta hubungannya dengan Hyang Suksma. Tetapi tidak hanya tahu saja yang diberikan kepada manusia, sebagaiInsan Kamil haruslah ia berusaha untuk mencapai kesatuan dengan Tuhannya, atau lebih baik haurslah ia kembali kepada ke-ada-annya yang sebenarnya.cara mencapai kesatuan itu disebut laku. Tahu dan laku inilah yang merupakan isi utama dari kesusasteraan yang kerapkali disebut kesusasteraan suluk.
Maka ternyatalah bahwa faham pantheisme ini jelas terdapat pada kesusasteraan tersebut. Tidak semua sama jelasnya, tetapi ada banyak yang terang-terangan; tak jemu-jemunya ditegaskan bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan ke-Tuhan lah kembalinya.
Tetapi ‘pulang’ ini jangan kira sebagai ciptaan Tuhan yang kembali kepada pangkuan asalnya, sebagai abdi yang setia. Tidak, ‘pulang’ ini berarti sampai kepadea asalnya, yaitu adanya yang sebenarnya. Istilah sangkan-paran amat popular dalam kalangan penganut faham yang kita bentangkan diatas itu.
Sebagai suatu contoh dari banyak macam ajaran atau hasil renungan kami ajukan di bawah ini:
Ing Hyang Suksma and andikeng Insan Kamil:
Dening ananira
Awakira awak mami,
Uripingsun uripira,
Cermin siji apan sareng ngilo singgih,
Wewayangan tunggal,
Pan pengawak tunggal jati
Rupa tunggal kinembulan.
Sasolahe kaula solah ing Gusti,
Karsa ning kaula
Lestari karsa ning Gusti
Karsa ning Purba-wisesa.
Terjemahan:
Hyang Suksma (Tuhan) besabda kepadaInsan Kamil:
Adapun ada-mu demikianlah halnya:
Badanmu ialah badanku,
Hidupku ialah hidupmu,
Satu cermin, berdua yang bercermin
Bayang-bayangnya satu,
Karena (dengan) sesungguhnya berdua hanya berbadan satu;
Tingkah hamba adalah tingkah Tuhan
Kehendak abdi
Adalah kehendak Tuhan
Sang Puraba-Wisesa
Identitas mahluk- disini manusia dengan Tuhan tak dapat lebih jelas lagi di tegaskan. Tuhan dan manusia adalah sama, Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan. Dari pada itu kami ulangi, bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan merupakan identitas, relasi yang mengandung dualitas tak mungkin, abdi dan Tuhan tak ada, tak ada yang mengabdi, tak perlu ada yang memper- Tuhan.
Di bawah ini kami ikutkan renungan sebagai akibat dari ajaran tersebut di atas:
Pan wruh sejati ningkira
Kira tan mangeran diri
Tan mangeran tawang tuwang,
Tan mangeran ing papan kang tinulis,
Tan mangeran swara wuwus,
Tan mangeran kahanan,
Tang mangeran kang ora, tan mangeran wruh
Tan mangeran rericikan,
Tan mangeran agal repit,
Tan mangeran ing Hyang Suksma,
Tan mangeran ing nabi miwah wali,
Tan mangeran guru ratu,
Tan mangeran sesame
Tan mangeran mring pribadi dawakipun,
Tan mangeran barang titah
Tan mangeran rame sepi
Terjemahannya:
Karena tahu benar (tentang identitas Tuhan dan manusia), maka manusia tak mempertuhan diri
Tak menuhankan awing-awang suwung
Tak mempertuhan papan tertulis
Tak mempertuhan swara dan kata
Tak mempertuhan ada ataupun tiada dan pengetahuan
Tak mempertuhan yang bermacam-macam
Tak mempertuhan yang kasar dan yang halus
Tak mempertuhan Hyang Suksma
Tak mempertuhan nabi dan wali
Tak mempertuhan guru dan ratu
Tak mempertuhan sesama
Tak mempertuhan diri dan pribadi
Tak mempertuhan mahluk
Tak mempertuhan ramai maupun sepi
Demikian ada identitas antara manusia dan Tuhan, maka tak ada relasi apapun padanya dengan siapapun juga, tentu tak ada relasi yang merupakan pengabdian, pun terhadap Tuhan, Hyang Suksma. Ini memang yang menjadi dasar ungkapan tersebut di atas. Diutarakan sebagai berikut:
Naming sirna ning teleng tyas,
Kang tan labet sadrah ing angina-angin
Lucut karone tan mojud
Pan datan kawimbuhan,
Datan amimbuhi mring lawanipun,
Pand datan angraga suksma,
Suksma tanpa raga jati,
Komplang roro ning atunggal
Sampurna ning kaula lawan gusti
Suh sirna byuh ilang jumbuh
Wus tan kengang inucap
Apan meksih nenggih sadungkap wuwus
Terjemahan:
Tinggallah kekosongan sampai hati kita,
Kosong, kosong belaka,
Keduaan hilang tak berwujud,
Tak adalah yang menambah dan yang ditambah
Tak adalah jiwa beraga
Jiwa memang tak beraga, itulah satu-satunya realitas,
Hilanglah kedua satuan
Dalam kesempurnaan hamba dan Tuhan
Sirna, bersama rupa dan berkeadilan sama (satu)
Itu tak lagi terkatakan !
Hanya sampai disitu kemampuan kita.
Kesempurnaan idea yang merupakan satu-satunya realitas disini amat terang. Yang sempurna itu memang harus satu, dimana ada semacam keduaan tentulah itu kekeliruan. Bagi manusia yang bijaksana, yang tahu akan hal-hal yang sebenarnya, maka tahullah ia akan kesatuan itu, pun kesatuan dirinya dengan Tuhan. Dunia dengan segala permacam-macamnya tidak dianggap realitas, semua relasi adalah pelanggaran terhaap kesatuan ini. Barangsiapa masih menganggap ada relasi itu, tentulah ia sendiri belum sempurna, belum merupakanInsan Kamil.
Kesulitan terhadap pantheisme ini telah kami katakan,karena ia masuk dalam rangkaian idealisme. Dalam aliran ini nilai pengalaman diabaikan atau sekurang-kurangnya tidak diperhatikan, sehingga dalam bentuknya yang extrim mengabaikan mengabaikan pengalaman dan alamnya. Hal yang nyata benar dalam bentuk pantheisme ini : satu-satunya realitas ialah idea. Jika idea ini disebut Tuhan, tak adalah perubahan prinsip, sebab tetap berarti Tuhan adalah identik dengan alam serta menusianya dan hilanglah nilai dan arti pengalaman. Kalau alam dan peng-alam-an tak berarti lagi, apakah yang dapat menjadi dasar pengetahuan dan ilmu dan apa lagi yang akan menjadi dasar kebenaran?
Ketidaksempurnaan alam dan manusia dianggap kekeliruan atau ketidak-tahuan, inipun terang melawan pengalaman kita dan kebenaran yang terdapat dalam kesadaran kita.
(FILSAFAT MANUSIA)
Pantheisme:
Pantheisme lingkungan Jawa:
Kebudayaan Hindu banyak pengaruhnya dalam kebudayaan Jawa terutama Jawa-Tengah. Tidak heran, karena di Jawa-Tengah berabad-abad ada kerajaan yang bersifat Hindu; ada yang menyebut kebudayaan itu bersifat Hindu, sementara ada juga yang menyebut bahwa kerajaan itu bersifat Hindu-Jawa, atau Jawa – Hindu.
Bahwa ada paduan antara kebudayaan yang terdapat di jawa sebelum masa Hindu dan yang mendatang dari tanah Hindu, itu tak dapat disangkal lagi. Jadi dalam filsafat, menurut arti seluas-luasnya, alam pikiran manusia itu diwarisi juga oleh penghuni jawa-modern ini. Mungkin ada yang menganggap ganjil, bahwa ada alam pikiran yang bersifat pantheistis, sedangkan sudah berabad-abad lamanya di daerah itu agama Islam di anut orang. Walaupun demikian , kita hendaklah ingat benar, bahwa dalam kalangan filsafat Islam, atau lebih baik dikatakan: di antara filsuf-filsuf yang beragama Islam, faham pantheisme ini tidaklah asing. Dalam abad-abad pertengahan filsuf-filsuf Islam terkenal seperti Ibn Siena, Ibnu Al’arabi banyak benar kena pengaruh Neoplatonisme. Sehingga tidak heranlah, bahwa pengaruh pantheisme itu tidaklah asing juga bagi agama Islam yang beberapa abad yang lalu masuk ke Indonesia. Banyak karya tertulis yang berisikan renungan dan pandangan mengenai Tuhan dengan dunia serta alam. Istilah Arab banyak juga dipakai tetapi istilah Jawa serta Sansekerta juga tidak asing. Di samping kata Allah terkenal juga istilah suksma, Pangeran, Hyang widi, gusti.
Hubungan manusia dengan Tuhan ini kerapkali dimajukan; sebab terutama bukanlah filsafat secara teori yang dikemukakan, melainkan secara praktis dan timbullah disini pandangan mengenai inti manusia dan terjawab pertanyaan apakah sebenarnya manusia itu. Jadi yang hendak dicari jawabnya bukan manusia satu persatu yang terlibat oleh segala keduniawian dengan segala pengetahuan yang banyak kelirunya itu, melainkan manusia yang benar-benar manusia yang sempurna; Insan Kamil. Dalam renungan-renungan mereka tentang manusia, maka yang dimaksud adalah manusia sempurna ini. Paling sedikit manusia biasa itu harus diberitahu dulu akan intinya, maka pengetahuan yang harus dimiliki manusia lebih dulu itulah yang disebutnya manusia sejati; dipergunakan istilah ngelmu. Maka ternyatalah bahwa dalam intinya adalah Tuhan sendiri. Dengan kata-kata yang sering amat indah, terutama jika diajukan ibarat atau persamaan, bentuk bahasanya amat menarik, sehingga pembaca tak tahu lagi mana yang sebenarnya dan mana yang merupakan persamaan. Cara pembuktian tidak selalu melalui logika, tetapi biasanya yang dipakai itu analogi atau kias. Dalam bentuk dialog tersimpulkan pendapat-pendapat tentang Tuhan atau manusia; dengan contoh-contohnya yang amat menarik diajukan inti manusia serta hubungannya dengan Hyang Suksma. Tetapi tidak hanya tahu saja yang diberikan kepada manusia, sebagaiInsan Kamil haruslah ia berusaha untuk mencapai kesatuan dengan Tuhannya, atau lebih baik haurslah ia kembali kepada ke-ada-annya yang sebenarnya.cara mencapai kesatuan itu disebut laku. Tahu dan laku inilah yang merupakan isi utama dari kesusasteraan yang kerapkali disebut kesusasteraan suluk.
Maka ternyatalah bahwa faham pantheisme ini jelas terdapat pada kesusasteraan tersebut. Tidak semua sama jelasnya, tetapi ada banyak yang terang-terangan; tak jemu-jemunya ditegaskan bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan ke-Tuhan lah kembalinya.
Tetapi ‘pulang’ ini jangan kira sebagai ciptaan Tuhan yang kembali kepada pangkuan asalnya, sebagai abdi yang setia. Tidak, ‘pulang’ ini berarti sampai kepadea asalnya, yaitu adanya yang sebenarnya. Istilah sangkan-paran amat popular dalam kalangan penganut faham yang kita bentangkan diatas itu.
Sebagai suatu contoh dari banyak macam ajaran atau hasil renungan kami ajukan di bawah ini:
Ing Hyang Suksma and andikeng Insan Kamil:
Dening ananira
Awakira awak mami,
Uripingsun uripira,
Cermin siji apan sareng ngilo singgih,
Wewayangan tunggal,
Pan pengawak tunggal jati
Rupa tunggal kinembulan.
Sasolahe kaula solah ing Gusti,
Karsa ning kaula
Lestari karsa ning Gusti
Karsa ning Purba-wisesa.
Terjemahan:
Hyang Suksma (Tuhan) besabda kepadaInsan Kamil:
Adapun ada-mu demikianlah halnya:
Badanmu ialah badanku,
Hidupku ialah hidupmu,
Satu cermin, berdua yang bercermin
Bayang-bayangnya satu,
Karena (dengan) sesungguhnya berdua hanya berbadan satu;
Tingkah hamba adalah tingkah Tuhan
Kehendak abdi
Adalah kehendak Tuhan
Sang Puraba-Wisesa
Identitas mahluk- disini manusia dengan Tuhan tak dapat lebih jelas lagi di tegaskan. Tuhan dan manusia adalah sama, Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan. Dari pada itu kami ulangi, bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan merupakan identitas, relasi yang mengandung dualitas tak mungkin, abdi dan Tuhan tak ada, tak ada yang mengabdi, tak perlu ada yang memper- Tuhan.
Di bawah ini kami ikutkan renungan sebagai akibat dari ajaran tersebut di atas:
Pan wruh sejati ningkira
Kira tan mangeran diri
Tan mangeran tawang tuwang,
Tan mangeran ing papan kang tinulis,
Tan mangeran swara wuwus,
Tan mangeran kahanan,
Tang mangeran kang ora, tan mangeran wruh
Tan mangeran rericikan,
Tan mangeran agal repit,
Tan mangeran ing Hyang Suksma,
Tan mangeran ing nabi miwah wali,
Tan mangeran guru ratu,
Tan mangeran sesame
Tan mangeran mring pribadi dawakipun,
Tan mangeran barang titah
Tan mangeran rame sepi
Terjemahannya:
Karena tahu benar (tentang identitas Tuhan dan manusia), maka manusia tak mempertuhan diri
Tak menuhankan awing-awang suwung
Tak mempertuhan papan tertulis
Tak mempertuhan swara dan kata
Tak mempertuhan ada ataupun tiada dan pengetahuan
Tak mempertuhan yang bermacam-macam
Tak mempertuhan yang kasar dan yang halus
Tak mempertuhan Hyang Suksma
Tak mempertuhan nabi dan wali
Tak mempertuhan guru dan ratu
Tak mempertuhan sesama
Tak mempertuhan diri dan pribadi
Tak mempertuhan mahluk
Tak mempertuhan ramai maupun sepi
Demikian ada identitas antara manusia dan Tuhan, maka tak ada relasi apapun padanya dengan siapapun juga, tentu tak ada relasi yang merupakan pengabdian, pun terhadap Tuhan, Hyang Suksma. Ini memang yang menjadi dasar ungkapan tersebut di atas. Diutarakan sebagai berikut:
Naming sirna ning teleng tyas,
Kang tan labet sadrah ing angina-angin
Lucut karone tan mojud
Pan datan kawimbuhan,
Datan amimbuhi mring lawanipun,
Pand datan angraga suksma,
Suksma tanpa raga jati,
Komplang roro ning atunggal
Sampurna ning kaula lawan gusti
Suh sirna byuh ilang jumbuh
Wus tan kengang inucap
Apan meksih nenggih sadungkap wuwus
Terjemahan:
Tinggallah kekosongan sampai hati kita,
Kosong, kosong belaka,
Keduaan hilang tak berwujud,
Tak adalah yang menambah dan yang ditambah
Tak adalah jiwa beraga
Jiwa memang tak beraga, itulah satu-satunya realitas,
Hilanglah kedua satuan
Dalam kesempurnaan hamba dan Tuhan
Sirna, bersama rupa dan berkeadilan sama (satu)
Itu tak lagi terkatakan !
Hanya sampai disitu kemampuan kita.
Kesempurnaan idea yang merupakan satu-satunya realitas disini amat terang. Yang sempurna itu memang harus satu, dimana ada semacam keduaan tentulah itu kekeliruan. Bagi manusia yang bijaksana, yang tahu akan hal-hal yang sebenarnya, maka tahullah ia akan kesatuan itu, pun kesatuan dirinya dengan Tuhan. Dunia dengan segala permacam-macamnya tidak dianggap realitas, semua relasi adalah pelanggaran terhaap kesatuan ini. Barangsiapa masih menganggap ada relasi itu, tentulah ia sendiri belum sempurna, belum merupakanInsan Kamil.
Kesulitan terhadap pantheisme ini telah kami katakan,karena ia masuk dalam rangkaian idealisme. Dalam aliran ini nilai pengalaman diabaikan atau sekurang-kurangnya tidak diperhatikan, sehingga dalam bentuknya yang extrim mengabaikan mengabaikan pengalaman dan alamnya. Hal yang nyata benar dalam bentuk pantheisme ini : satu-satunya realitas ialah idea. Jika idea ini disebut Tuhan, tak adalah perubahan prinsip, sebab tetap berarti Tuhan adalah identik dengan alam serta menusianya dan hilanglah nilai dan arti pengalaman. Kalau alam dan peng-alam-an tak berarti lagi, apakah yang dapat menjadi dasar pengetahuan dan ilmu dan apa lagi yang akan menjadi dasar kebenaran?
Ketidaksempurnaan alam dan manusia dianggap kekeliruan atau ketidak-tahuan, inipun terang melawan pengalaman kita dan kebenaran yang terdapat dalam kesadaran kita.
Langganan:
Postingan (Atom)

